Wednesday, March 25, 2015

Land of Anbiya'

My last post was in January, back after the flood relief mission. Then, time was occupied with catching up for routine chores and running domestic issues. It lasted for 2 months, intermittent with some weekend outdoor stuff like trekking, mostly. The only exercise mode that suits my strength and time capacity. Plus, the team of regulars are getting popular among the neighbourhood. Plus, I get to bring my kids along. What else could I ask for?

The weekend trekking was fruitful when the time came for me to visit Medinah and Mecca. The whole family went for umrah during the school break. Our first oversea trip together and what other venue best chosen than the land of Anbiya'. 

We don't quite did a good preparation, well at least for me. I just got myself some of those regular clothes I wear to surau and that's about it. 

The flight was 8 hours and most of us faced the jet lag syndrome. We spend the 5 hour bus ride from Jeddah to Medinah to replenishment our sleep time from AirAsiaX lack of sitting manoeuvrability. By the time we reached Medinah, it was almost time for Fajr prayer. A quick change after checking in, I took my first step into Masjid Nabawi. One of the world's holy place from the three besides Masjidil Haram and Masjidil Aqsa. It was beyond my thoughts that Allah invited me to be here. All praised to Him.

We spend three days in Medinah meditating, building my strength of Tauhid and strengthening my ties with the Prophet s.a.w. I made it a routine to ziarah Rasulullah's tomb and his Khalifahs'. I even took a chance one morning escorting a jenazah to the famous Baqi' cemetery. The rest was the normal routine of in and out between hotel room and the mosque, doubling up the effort for every prayer time and other chance of iktikaf.

Medinah was absolutely perfect, with perfect ambient and weather. It was cooling up till 11.00 in the morning with sudden gusts of wind at times. It gets hot and dry in between the noon and gets back cold in the evening up till night. I get crack heels from the long walk on the cold marble and dry lips from the dry and cold weather.  

By the time we had to leave for Mecca, I started to miss Medinah and Rasulullah s.a.w.  My last ziarah Wida' to him, I prayed that this would  not be my last.

The bus ride to Mecca took almost another 5 hour and we were ready in our Ihram for our first umrah. Unexpectedly after Miqat at Bir Ali and a quick stop for Maghrib at somewhere along the way, I was down with a fever. With only the Ihram wrapped around me, I was shivering from the desert wind and the bus air-con. 

The tax from the travelling added to the challenge. We reached Mecca at 10.30 p.m. and had the smallest window to recover before performing umrah. The sight of the majestic Masjidil Haram induced steroids into blood veins, allowing spiritual comeback from the sore physical. It doubled up once we entered the mosque and saw Baitullah itself. It touched deep into our hearts and tears starts rolling off our cheeks. 

With the remaining and revived strength, we concluded our first umrah after almost 2 hour plus which included tawaf umrah, sa'i between Safa and Marwah and ended with Tahalul. It was almost 3.00 in the morning when we lay our heads on the pillow, ending a big journey for today.

Mecca was totally metropolitan with a bigger variety of people. Our hotel was located in the indian's province of Mecca where most of the populations are Pakistani, Bangladeshi, Indians themselves and others from the same region. Hence, communication with shops and retailers were easy. The walk to Masjidil Haram is almost 15 minutes, rough guestimate would be around 500 meters. 

Mecca is still developing with mosque renovations and nearby hotels construction. It gets windy at times and dusty. One can easily get the cough from the weather and dust. Masjidil Haram itself is partly closed and we do not get to see the full complete building. 

The 5 days in Mecca was packed with more ibadah, sleep and adventuring around the huge mosque architectural layout. The second umrah was performed 2 days after, after a full body recovery, all by myself after Zohor. In Mecca, tawaf was made routine during free times besides spending reciting the Quran or I would simply stand on the upper Mataf bridge admiring the Baitullah in between solat.

There you go. A two month absent and a short note of my trip. Perhaps with some photos for memories sake.



First mosque built by the Prophet s.a.w. Masjid Quba

7km range of Jabal Uhud



The famous and newest architectural in Mecca

Jabal Nur where Hira' cave became first wahyu venue for the Prophet s.a.w.

In between Maghrib & Isya', the crowd at it's peak

Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar.

Our rooftop escape plan during Isya from the crowd

The Floating Mosque of Ar-Rahmat in Jeddah

Saturday, January 17, 2015

Bicara Alam

Bismillahirrahmanirrohim

Fikiran aku masih dibanjiri dengan ujian Allah yang menimpa saudara kita di Pantai Timur. Sukar untuk aku melupakan apa yang dilihat dan sukar untuk aku tidak berbuat apa-apa. Jika masa dulu fikiran ni asyik memikirkan perihal basikal, lari, blogging dan segala apa lah yang berkaitan dengan hobi, tapi sekarang aku lebih tertumpu kepada perspektif yang berlainan. Kuasa Allah dalam membuka hati kita tidak disangkalkan. Mungkin Allah sedang menjelaskan kepada aku bahawa sudah cukup hayat aku untuk diri aku sendiri. Sudah sampai masa untuk memberi manfaat. Wallahu'alam. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui. 

Tambahan lagi keadaannya bila aku ikuti paparan pesanan dan perkongsian seorang aktivitis NGO yang sudah hampir 4 minggu memanfaatkan dirinya untuk menganjur dan memberi bantuan yang tidak putus-putus kepada mangsa banjir di Kelantan. Setiap perkembangan darinya hampir setiap jam membuatkan aku berasa tidak puas hati dan tidak cukup dengan kemampuan aku ke sana tempoh hari.

Namun, Allah memberi aku masa untuk kembali ke pangkuan keluarga dan ke kampung BTHO untuk muhasabah. Sesungguhnya aku sedang cuba mengupas yang terbaik.

Kuliah malam ini ustadz mengupas tentang Bicara Alam, yang sekaligus menyentuh apa yang telah dan sedang berlaku di Pantai Timur. Kalimah Allah s.w.t. yang terbaik berkaitan dengan Bicara Alam ini ialah dari Surah (16) An-Nahl: Ayat 10 - 17. 

Sekali bacaan ayat-ayat tersebut bersama maknanya mungkin tidak begitu signifikan, akan tetapi kupasan ustadz cukup untuk membuka minda dan hati untuk bertafakkur memikirkan kehebatan dan kebesaran Pencipta kita. Allahuakbar.

Benar sekali apa yang terjadi di sana tidak terjangkau oleh fikiran kita. Sungguh, itu lah yang aku rasakan ketika berada di sana. Kelu lidah ingin menyatakan apa yang mata ini melihat. Sesuatu yang sungguh di luar jangkauan perkataan dan pemikiran. Kata-kata itu kerap keluar dari mulut ini semasa berbicara dengan teman misi. Namun, itu lah bicara alam yang sedang menyampaikan kepada kita sesuatu.

Muhasabah kita juga sekali sekala penting dalam menilai apakah pengertian di sebalik apa yang berlaku dan bukan lagi waktunya untuk menuding jari atau mengkaji punca kepada permasalahannya. Bersyukur, berfikir tentang sifat Al-Jabbar, memahami sifat Al-Hakim, mengingati sifat Ar-Rahman, dan yang memberi petunjuk adalah antara yang disentuh ustadz dalam perkongsian beliau.

Aku juga terpanggil kembali dengan lirik sebuah lagu kegemaran dari artis Indonesia sedikit masa dulu yang merupakan seorang yang puitis. 

Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih ...

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika dia kutanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang


Wednesday, January 14, 2015

Kg Dusun Nyior & Kg Aur Berduri

Sambungan...

Bandar Kuala Krai yang saban hari diberitakan dengan kesesakan lalulintas ketika musim perayaan kini hanya mampu duduk lesu dengan mempamerkan kesan-kesan pasca banjir. Suasana dan pemandangan sangat menyayatkan. Hampir 80% urusan perniagaan di sekitar bandar masih belum beroperasi. Nyata sekali tanda lumpur di dinding bangunan menunjukkan ketinggian air banjir yang melanda bandar Kuala Krai amat tinggi. Lokasi Kuala Krai yang begitu hampir dengan pertemuan Sungai Lebir ke Sungai Kelantan juga ternyata menjadi penyumbang utama kepada berlakunya banjir besar tempoh hari.

Kami buat keputusan untuk menyerahkan bekalan bantuan yang tertangguh dari Kg Laloh tadi kepada seorang wakil perkampungan dari Jeli. Bekalan bantuan dipindahkan ke kenderaan beliau. Selesai bersarapan di mana aku fikirkan bermanfaat untuk bekalan tenaga kelak, kami menuju ke Guchil di mana bantuan akan terus disampaikan kepada penduduk beberapa kampung. Kini kami lebih bermotivasi setelah agenda pertama di Kampung Laloh terpaksa diabaikan.

Di persimpangan kelihatan projek pembersihan SMK Kuala Krai sedang berlangsung. Mungkin tajaan sukarelawan dari sebuah syarikat koperat. Liputan media TV yang hadir membuktikan kehadiran orang penting di majlis tersebut.

Namun, apa yang kami bakal saksikan sejauh hanya 3km dari SMK Kuala Krai sangat memilukan. Tiga perkampungan di sini hampir seperti di anak tirikan oleh apa yang sedang berlaku tidak jauh di pekan. Memasuki sisa-sisa jalan estet hasil dari banjir, kami seperti mendekati satu dunia lain. Dunia yang mempamerkan tanda banjir setinggi pucuk pohon kelapa sawit, meranjau ketinggian tiang elektrik, runtuhan bangunan rumah seperti dilanda gempa bumi. Ketebalan pasir sungai yang didamparkan di sekitar kampung menunjukkan kekuasaan Sungai Kelantan melimpahkan isinya. Kami seperti berada di kawasan penempatan pelarian sedangkan mereka yang berteduh di bawah khemah kanvas itulah penduduk kampung sendiri. 

Aktiviti operasi pembersihan dan pembinaan semula binaan sementara seperti tempat solat sedang berlangsung oleh sukarelawan Unit Amal yang mungkin sudah mula bertugas beberapa hari sebelum. Kami juga bersaing dengan konvoi IKRAM Pulau Pinang yang memilih perkampungan ini untuk menghulurkan bantuan.

Kawasan agak kelam kabut di sebalik kesayuan hati. Dari riak muka dan pandangan mata mereka yang terjejas, nyata sekali mereka masih trauma dan buntu untuk mengambil langkah seterusnya. Apatah lagi jika tiada sanak saudara luar. Salah seorang petugas telah memperkenalkan kami kepada tok imam kampung untuk maklumat lebih lanjut tentang dua buah kampung lagi di dalam yang masih belum menerima bantuan yang cukup. Tapi keadaan tanah tidak mengizinkan untuk lori bermuatan berat untuk masuk. Lantas kami memindahkan bekalan ke dalam 4X4 dan meneruskan misi ke Kampung Dusun Nyior dan Kampung Aur Berduri. 

50 kampit beras telah dihulurkan di setiap kampung, selain dari Drypers, selipar, set solat, berus gigi & ubat gigi, kanvas, selimut, sardin, mee segera dan biskut. Malah ayam mentah yang kami sepatutnya masak untuk mereka juga terus kami sedekahkan kerana kesuntukan masa. Di Kampung Aur Berduri, keadaan beberapa rumah cukup menyedihkan. Ternyata mereka masih dalam peringkat 'berdiri semula' selepas dilanda musibah. Terdapat juga sukarelawan dari Surau Tun Teja, Rawang sedang menjalankan tugas pembersihan dan memasak untuk penduduk. 

Kami berjalan kaki memikul bekalan ke setiap rumah. Gambar tidak cukup untuk menjelaskan keadaan dan suasana sebenar. Sebak dada dikawal bagi mengelak linangan air mata. Sungguh, Allah memilih mereka untuk diuji supaya mereka mendapat redha Allah swt yang berlipat kali ganda.

Kami memutuskan untuk meneruskan misi ke Tanah Merah. Sepanjang laluan keluar dari Kampung Dusun Nyior, kami sempat menghulurkan bantuan bekalan untuk penduduk Ladang Mengkebang. Di Tanah Merah kami menghulurkan bantuan bekalan kepada Ahli Parlimen Rantau Panjang yang menetap di situ. Seorang yang berpangkat YB tapi ternyata zuhud. Kediaman beliau yang juga terjejas teruk tidak menafikan kedatangan kami untuk menempatkan bantuan bekalan sebelum diagihkan di kawasan Parlimen Rantau Panjang. Malah, beliau masih sempat menjamu kami nasi bungkus bagi mengalas perut yang sudah mula berdendang. Alhamdulillah.

Taklimat panjang lebar dari beliau sungguh menyayat hati. Bermula dari kisah kali pertama gelombang melanda bumi Kelantan hinggalah menjangkau ke gelombang banjir kedua, yang kini telah memasuki minggu ketiga mereka di dalam kedaifan.

Dengan terlaksananya huluran bantuan di Tanah Merah, misi kami telah terlaksana, namun kami rasakan ia masih belum tamat. Mereka masih memerlukan bantuan. Sekelumit bantuan kami tidak mampu untuk mengembalikan keadaan asal tapi andai ada rezeki kekuatan dan peluang, inshaa Allah kami akan kembali.


















Monday, January 12, 2015

Kuala Krai Lesu

Hari pertama persekolahan, untuk majoriti sekolah di Malaysia kecuali di kawasan yang terjejas dari bencana banjir. Aku ambil peluang bercuti, konon untuk mengurus anak-anak walaupun mereka sudah besar dan boleh mengurus sendiri di sekolah, tapi ini ialah peluang untuk berehat dari perjalanan hujung minggu lalu.

Alhamdulillah. Misi Bantuan Banjir Kelantan anjuran Surau Al-Ansar, Suakasih, BTHO telah selamat pergi dan kembali. Segala urusan telah dipermudahkan oleh Allah swt walaupun perancangan asal terpaksa diubahsuai mengikut keadaan. Itu juga kerja Allah swt.

Secara ringkas, perkongsian perjalanan  dan pengembaraan kami mungkin boleh memberi sedikit gambaran tentang kesulitan dan kesusahan mereka di sana termasuk mangsa, sukarelawan dan petugas.

Perjalanan kami bermula pada Jumaat jam 11.00 malam setelah pengagihan barang dan peserta ke dalam setiap kenderaan selesai. Sejumlah 11 buah kenderaan 4X4 dan 3 buah lori menyertai misi ini. Majlis perlepasan tidak diabaikan dengan bacaan doa dari Ustadz Ahmad Nazri (ustadz sekampung).

Sebaik menempuh Tol Gombak, kami menyaksikan fenomena yang sangat luar biasa. Berduyun-duyun kenderaan misi bantuan dari pasukan lain juga turut bergerak pada waktu yang sama. Allahu akbar. Malah, rezki dari Allah juga telah menyebabkan kenderaan kami tidak dikenakan bayaran tol. Mungkin jurutol beri laluan percuma bila melihat 'sticker' dan bendera misi. Alhamdulillah.

Perjalanan dari Gombak hingga ke Gua Musang yang mengambil masa semalaman tidak putus-putus dengan kenderaan misi bantuan yang kebanyakan pacuan 4X4. Setiap gerai makan juga penuh dengan kenderaan misi bantuan. Sungguh luar biasa dan sekaligus memberi impak semangat.

Solat Fajr kami di Masjid Tengku Muhammad Faiz, Gua Musang. Sekali lagi aku kagum dengan kekuasaan Allah dalam memberi hidayah kepada mereka yang sanggup meninggalkan keluarga demi jihad. Jemaah subuh pada pagi tersebut seperti solat Jumaat. Perkarangan masjid penuh dengan kenderaan sukarelawan misi bantuan, bas IPTA dan jentera jabatan kerajaan. Allahu akbar.

Sasaran pertama kami ialah Kg Laloh, Kuala Krai, 86km dari Gua Musang. Mendekati Kg Laloh, kami sudah terpukau dengan keadaan di sepanjang jalan utama. Kerosakan kediaman dan infrastrukur hampir 'total loss' seperti keadaan perang yang kita saksikan di filem luar negara. Sisa banjir menyaksikan fenomena luar biasa yang jarang dapat kami lihat terutama di tanah air sendiri.

Melalui individu tempatan yang kami jumpa di tepi jalan utama, penempatan yang sepatutnya menerima bantuan kami terputus hubungan kerana keadaan lumpur terlalu tebal untuk ditembusi akibat hujan berterusan sejak 2 hari lalu. Kami tiada pilihan kecuali untuk memilih ke destinasi yang seterusnya. Semoga Allah swt melindungi penduduk Kg Laloh.

Perjalanan diteruskan ke Kuala Krai, 32km lagi. Merupakan jajahan yang kedua besar selepas Gua Musang. Kami sempat lalu di persimpangan Kampung Manik Urai, antara kawasan perkampungan yang paling teruk terjejas. Keadaan di persimpangan ternyata sibuk dengan kenderaan bantuan dan kawalan keselamatan. Semakan di Google Map dan Google Earth untuk lokasi perkampungan Manik Urai ini tidak syak lagi ia berada di kawasan yang sangat berpotensi menerima impak aliran Sungai Lebir.

Sambung kendian deh...










Thursday, January 8, 2015

New Year Mission

May our 2015 be a blessed year.

We are engulfed more into the flood disaster aid rather than celebrating the new year like Malaysians normally do. For that, I guess it is a good thing. Save the tax payers' money from spending on lousy concerts and corrupt countdowns. 

We are attach to the mobile phones following updates from the disaster locations and aid drive but simply can't resist the temptation sharing food and vacation photos as if we don't care the huge loss these people had.

As of this time, I can confirm my participation in our local community aid drive, base in Surau Al-Ansar. After getting the green light from an owner, his pick-up will be loaned to transport the aid. Financial, food and personal necessity items have been generous. Alhamdulillah. According to plan, we will start our journey this Friday, 9th January to Kelantan. The convoy will consist of 3 no. of 3 tonnes lorries and 10 pick-ups with 40 workforce. Seems like a huge team.

Last Friday night we shopped for items at a huge retailer in Kuchai Lama. Among others are a thousand bottles of drinking water, diaper and biscuits. 600 packs of 5 kilos of rice were brought in, phase by phase. 

We met another group of aid convoy on our way out. A group of Chinese guys, young and old. To my surprise, they are weekend warrior cyclists, and lives nearby to ours. The national interest have connected us, witnessing warm and kind hearts united as one. Allahuakbar.

Come weekend, I assisted with UPM aid drive. We brought the kids along. Goods were packed and sent over to Air Force base in Bukit Jelutong. Another weekend without cycling, but I felt OK as long as the priorities are set right.

Lets pray for the them and for the aid team. Inshaa Allah.

NSK Hypermarket in Kuchai Lama 24-7 with Ansorians.

UPM staff volunteers at filtering & packing 

Following the convoy to TUDM

Friday, January 2, 2015

Tengkujuh

Bismillah

Setakat hari ini, tragedi banjir yang melanda pantai timur Semenanjung sudah hampir 3 minggu. Aku cuma sempat jeling beberapa berita yang disampaikan di kaca TV, namun aku rasakan tidak cukup meluas kerana diselang seli dengan tragedi pesawat terhempas. Berita dan maklumat yang lebih jelas mengenai keadaan banjir adalah melalui media sosial. Walaupun ada juga peringatan dari pihak pemerintah untuk tidak percaya berita dari saluran tersebut, aku yakin keadaan yang begitu terdesak tidak akan dimanipulasi oleh mereka yang bergelar mangsa. Malah, mereka yang terjejas tiada sebarang kelebihan langsung jika mendesak permintaan bantuan kerana gambaran yang aku saksikan, yang kebanyakannya dari ehsan sukarelawan misi kemanusiaan sangat menyayat hati.

Jika kita peka atau tidak, semua gambaran tersebut adalah realiti yang sedang berlaku di tanah air kita, dan bukan musibah yang acap kali kita tonton di kaca TV sama ada cerita Hollywood mahupun berita taufan di negara lain. Mereka yang terjejas adalah orang kita, rakyat Malaysia yang mungkin kita pernah berselisih di mana-mana tempat ketika pergi bercuti. Bahkan, kita juga pernah ke lokasi-lokasi terjejas seperti Kota Bharu, Kuala Krai, Gua Musang, Rantau Panjang, Kemaman, Temerloh baik untuk membeli belah jersi, periuk belanga, makan ikan patin atau beristirehat di pusat peranginan pantai. 

Kini, Allah sedang menguji mereka dan kita yang sedang selesa menjalani kehidupan harian. Berat mata memandang, berat lagi bahu memikul. Namun, seberat mana pun ujian Allah, jika tekad hati untuk bersatu dan membantu secara ikhlas dengan hati yang bersih, dan doa, dengan izin-Nya kita mampu untuk memberi yang terbaik untuk mereka.

Singkirkan apa jua sentimen terutama politik, sikap tidak peduli atau perkauman. Bahkan, sekurang-kurangnya jika tiada kemampuan untuk membantu, sumbangkan tanda hormat di atas kejerihan yang dirasai mangsa. Mereka tidak peduli dengan suafoto kita bercuti di luar negeri, mereka tidak peduli dengan hidangan makanan yang kita muat naik ke laman sosial, mereka juga tidak peduli dengan hiasan pelamin persandingan yang menelan belanja ribuan ringgit.

Kalau kita tanpa segan silu dan rasa malu untuk bertindak tanpa mempedulikan mereka yang kesusahan, kita patut malu dengan Allah kerana Dia tidak suka dengan sifat menunjuk-nunjuk, atau kita patut malu dengan Rasulullah s.a.w. kerana baginda tidak sekali pun berbuat demikian.

Aku tabik kepada mereka yang berjuang demi kemanusiaan. Apa yang digelar sebagai Tentera Allah oleh seorang aktivis sangat secucuk. Namun, niat kita hanya Allah yang Maha Mengetahui, semoga kita telus dan ikhlas. 

Aku dapat saksikan tanah air ini penuh dengan mereka yang cinta akan kemanusiaan tidak mengira bangsa dan kaum. Sedikit masa dulu, aku bertembung dengan sekeluarga berbangsa Cina yang sama-sama memenuhkan troli pasaraya dengan bahan makanan, minuman, susu, lampin pakai buang atas dasar yang sama. Allahu akbar. Semoga Allah membuka hati mereka yang baik itu untuk mendakap keimanan kepada-Nya.

Hingga ke hari ini, mangsa banjir masih memerlukan bantuan. Kehidupan mereka kelihatan sangat kritikal terutama anak-anak kecil dan warga tua. Aku tidak sanggup membiarkan layar sebegini berterusan kerana mereka juga makhluk Allah yang sedang diuji untuk kebaikan hari kemudian.

Setiap amal ibadah yang kita lakukan adalah untuk mengimbangi hubungan yang vertikal (habluminAllah) dan juga hubungan yang horizontal (habluminannas). Maka, jagalah keseimbangan itu, kerana setiap kebaikan yang sebesar zarah sekalipun, akan dikira oleh Allah s.w.t.

Wallahu'alam.

Wednesday, December 31, 2014

East Coast Monsoon Revisit

Aku telah diberi peluang untuk ke Pantai Timur sehari dua yang lepas. Allah izinkan. In fact, aku dikehendaki untuk melaksanakan tugas pejabat di Kuala Terengganu. Semuanya amanat last minute sebaik aku pulang dari bercuti di kampung halaman, dan masih mood cuti menjelang cuti umum Krismas. Tapi, asal dapat travel dan melihat tempat orang, aku redha dan OK.

Sudah semestinya tugasan pejabat, maka tiket penerbangan ditaja oleh syarikat, termasuk penginapan dan kereta sewa yang merupakan imbuhan balik. Pejabat menempah Air Asia, ironically-nya sebaik tempahan dibuat, berita kehilangan pesawat syarikat penerbangan tersebut dari Surabaya ke Singapura dilaporkan hilang dan tidak dapat dihubingi. Namun, oleh kerana ia mungkin satu kejutan tapi tragedi yang kedua kalinya terjadi kepada Malaysia, aku tidak begitu kaget. Aku terima dengan redha akan berita tersebut dan yakin perjalanan aku kelak akan dilindungi.

Pertama kalinya juga aku menjejakkan kaki di KLIA2, yang selama ini hanya aku dengar dengan kehebatan kemudahan membeli belah di dalam 'airport' atau sebaliknya. Aku naik ERL Transit dari Stesen Putrajaya, kadar tambang RM6.20 untuk perjalanan selama 15 minit sahaja. Cukup nyaman.

Sebaik aku melangkahkan kaki keluar dari tren, kedai Uniqlo telah menyambut ketibaan. Agak keliru dan buntu seketika. Langkah-langkah yang seterusnya hanya membawa aku masuk ke dalam sebuah kompleks membeli belah terkemuka seperti di ibukota. Mata juga meracau membaca setiap papan maklumat dan arah untuk ke Balai Perlepasan. Aku tidak pedulikan kedai-kedai apa yang ada, yang penting, aku mesti berada di Balai Ketibaan pada waktu yang sepatutnya. 

Penerbangan berlepas tepat pada waktunya, namun cuaca di luar masih hujan. Kapten pesawat memaklumkan cuaca di Kuala Terengganu juga begitu dan kehadiran awan-awan tebal akan menyebabkan penerbangan sedikit tidak selesa.

Syarikat penerbangan ini bukan menjadi kegemaran aku, tapi aku tiada pilihan. Mujur penerbangan hanya satu jam, maka posisi duduk yang tidak selesa tidak lama sangat. Jika lebih dari satu jam, aku pasti memilih syarikat lain.

Walaupun telah banyak kali sampai di KT tapi kali pertama dengan penerbangan. Binaan 'airport' KT (Sultan Mahmud Airport) sungguh tradisional dan suasana tidak semeriah KLIA atau KLIA2. Mungkin bukan musim puncak. Kereta terus disewa di 'airport' dan terus ke TH Hotel hanya 3 minit pemanduan. Sebuah hotel baru yang menawarkan kemudahan bilik serba lengkap pada kadar yang mungkin sedikit tinggi untuk aku 'budget traveller'. Tapi asal boleh 'claim' takpe. Kalau untuk bercuti, aku pilih 'homestay'.

Hujan masih gerimis sejak kami mendarat sehinggalah 2-3 jam ke petang bercampur angin yang semakin mendinginkan. Perut mula berkeroncong, mungkin kerana 'skip lunch' dan cuaca sejuk (alasan). Ex-roomate sewaktu di kolej telah aku hubungi tapi tidak berkelapangan untuk menjadi 'food guide' minum petang. Inshaa Allah, dengan sedikit ilmu memandu di KT, aku redah arah ke pusat bandar, lebih kurang 15 minit perjalanan. Tidak sukar untuk mencari tempat makan. Nasi kerabu sebagai hidangan minum petang mungkin agak 'overkill' tapi oleh kerana sudah menjadi santapan qadha' tengahari, aku terkam.

Aku kembali ke Gong Badak untuk bertemu dengan sahabat lama yang sudah bertugas di sini selama 14 tahun dan beristerikan orang Seberang Takir. Kami bersembang panjang, kembali mengikat silaturrahim yang telah lama terputus sambil dihidangi Kopi 'O' panas ketika hujan tiba-tiba menjadi sangat lebat. 

Disebabkan makan tengahari menjelang lewat petang, kami berjanji untuk makan malam lewat sedikit. Aku kembali ke hotel untuk berehat, hujan sudah kembali gerimis tetapi masih tetap hujan. Ini pengalaman kedua tengkujuh di Terengganu. Sekitar awal 2000, aku berada di sini dan Dungun untuk menziarah sahabat ini sewaktu dia mula bertugas. Fenomena cuaca yang cukup dramatik.

Beliau memperkenalkan hidangan makan malam di Pulau Duyung dan berjumpa seorang lagi sahabat kolej lama. Keadaan masih gerimis dan kelihatan kereta penduduk Pulau Duyung sudah diletakkan di pinggir jambatan untuk kedudukan yang lebih tinggi. Perasaan sedikit cemas tatkala kami menghampiri kedai makan yang terletak di tepi sungai, dan paras air sungai sudah hampir mencecah tebingnya. Begitu juga beberapa kapal yang ditambat di jeti kelihatan sudah begitu hampir dan lebih tinggi dari struktur bangunan kedai makan.

Untuk tempoh kami menjamu selera, kelebatan hujan silih berganti dari gerimis ke lebat dan kembali gerimis buat beberapa kali. Sesekali perbualan terhenti tatkala air takungan dari bumbung kedai melimpah ke tanah dengan dentuman yang agak kuat. 

Sahabat sempat membawa melihat beberapa kawasan banjir di Manir, yang kebanyakannya berhampiran dengan sungai. Dalam sejuk dan gelap lewat malam itu, aku cuma mampu berdoa tatkala melihat beberapa rumah yang sudah ditenggelami air. Namun mungkin, keadaan lebih kritikal di kawasan-kawasan terjejas seperti yang diberitakan.

Berdasarkan info-sembang kami, juga maklumat dari sahabat, terdapat beberapa sebab musabab yang secara langsung menyumbang kepada keadaan cuaca yang sebegitu, hampir setiap tahun. Antaranya perlepasan air dari empangan Kenyir yang menghampiri tahap bahaya ke rangkaian sungai-sungai yang mengalir ke arah laut, dan juga kerja-kerja persisiran pantai yang sedikit sebanyak mengubah keadaan geografi pantai.

Namun, sepanjang aku berada di sini bukan untuk bercuti, aku lebih berpeluang menyaksikan suasana kehidupan yang lebih perlahan tanpa kehadiran sibuk dan huru hara kotaraya. Agak cukup sesuai untuk suasana berkeluarga.

Monday, December 29, 2014

Musim

Bulan Disember memang musim segala musim yang disatukan ke dalam satu bulan. Musim yang menyajikan berbagai kerenah manusia dan alam. Dilihat secara menyeluruh, kita ada:
  1. Musim cuti sekolah
  2. Musim berkhatan
  3. Musim keputusan peperiksaan
  4. Musim walimatul urus
  5. Musim cuti-cuti Malaysia
  6. Musim tengkujuh
  7. Musim kembali ke sekolah
Banyak tak? Kalau nak disumbatkan ke dalam 31 hari memang padat. Maka segalanya bercampur aduk di antara suasana, keadaan dan emosi. Siapa kata Malaysia cuma ada 1 musim aje? Kalau negara lain ada 4 musim, kita lebih dari tu.

Aku tidak ketinggalan untuk mengisi beberapa perisian dalam hampir 6 minggu cuti sekolah ini, terutamanya perisian untuk anak-anak. Seberapa boleh, aku ingin menjadikan cuti panjang ini sesuatu yang berfaedah dan bermanfaat untuk kami sekeluarga dari membiarkan masa terbazir begitu aje. Contoh paling lumrah, membiarkan anak-anak melekat di kaca TV sama ada mengkayakan Astro ataupun bermain PS atau Xbox. Atau lebih tenat lagi, melekat dengan 'smartphone'. Penghujungnya mereka 'berjaya' dalam setiap aspek komunikasi dan sosial. Bangga?


Beberapa perancangan juga telah kami atur terutama belanjawan dan perjalanan ke luar kawasan (bercuti). Perancangan belanjawan paling penting kerana hampir semua melibatkan kos, dan tanpa perancangan, menjelang hujung tahun akan mengakibatkan huru hara. Yang mana menjadi keperluan utama kami dahulukan seperti perbelanjaan untuk kembali ke sekolah. 

Kami selesaikan pembelian buku dan pakaian sekolah sebaik memasuki Disember. Sementara kewangan masih kukuh dan stok buku masih ada dan saiz baju masih banyak pilihan. Baru tahun ni kami memilih untuk sedikit perubahan. Belajar dari kekurangan perancangan yang lepas-lepas.

Dah selesai bab sekolah, perancangan bercuti juga telah diatur beberapa bulan yang lalu bagi merebut tawaran tiket penerbangan yang berpatutan. Menjelang Disember kami cuma perlu berbelanja sedikit sahaja untuk 'ground arrangement'. Alhamdulillah dapat merasa bawa sekeluarga dan bonda naik kapalterbang bercuti. Antara tujuan utama ialah membawa dan mendidik keluarga mengembara melihat ciptaan Allah s.w.t. yang sungguh luar biasa.

Dalam pada itu, terkait juga dengan bahang peperiksaan UPSR dan PT3 yang sedikit masa dulu sungguh kontroversi. Keputusan diumumkan pada bulan Disember. Maka bersaksilah kami dengan pelbagai emosi di seluruh tanahair. Masa kami belum tiba tapi 2015 didoakan segala urusan anak-anak dipermudahkan-Nya dengan memperoleh kejayaan.

Dalam bulan ini jugak, setiap hari yang terluang dengan cuti hujung minggu mahupun cuti umum akan direbut untuk melangsungkan perkahwinan. Fenomena yang semakin menjadi isu perbualan terutama topik berbelanja. Aku cukup ngeri melihat kos yang dibelanjakan oleh setiap mereka yang berkahwin pada zaman ni. Cukup gerun. Diibaratkan berbelanja macam hendak hidup sehari tu je, sedangkan kehidupan selepas kenduri tu yang patut disediakan. Aku dah kerap sangat dengar pesan ustadz pasal isu ni tapi malang sekali konsep kesederhaan telah dipejamkan oleh kegemilangan 'glamour' dalam konsep 'raja sehari'. Bangga?


Dalam kita sibuk bersuka ria menyambut menantu, menyambut mempelai di atas pelamin sewaan beribu ringgit, saudara kita telah diuji oleh-Nya dengan kehadiran musim tengkujuh yang sudah lama tidak melanda kawasan-kawasan popular seperti pantai timur. Ujian kali ni agak lebih serius dan melibatkan ribuan mangsa. Observasi aku juga menyaksikan mereka yang berkemampuan tidak akan melepaskan peluang ini untuk terus berinfak harta, wang, masa dan tenaga kerana ganjaran yang telah dijanjikan Allah s.w.t. Sesuatu yang fenomenal. Kesedaran berinfak sudah menjadi sesuatu yang dikejar. Alhamdulillah. Tapi tetap masih ada segelintir yang langsung tidak ambil peduli malah lebih teruk lagi mengambil kesempatan di atas kesusahan sesama saudara.

Jika aku senaraikan kesemua kejadian dan dilihat secara holistik untuk 2014, mungkin ia membantu untuk memotivasikan diri kita dalam memuhasabahkan diri untuk mengenali diri kita dan Yang Maha Pencipta. Antaranya:
  1. Kehilangan pesawat MH370
  2. Kemusnahan pesawat MH17
  3. Kertas soalan UPSR bocor
  4. Konflik mengadakan PMR atau PT3?
  5. Konflik harga minyak yang tidak menentu
  6. Kematian 6 pengunjung konsert akibat 'over-dose' dadah
  7. Konflik penolakan hukum Allah secara terang-terangan
  8. Konflik coklat tidak halal
  9. Pengumuman GST
  10. Pencabulan hak rakyat Palestin oleh Yahudi ketika Piala Dunia
  11. Pemboikotan produk Yahudi
  12. Keputusan PT3 yang teruk
  13. Banjir besar di beberapa negeri terutama Pantai Timur
  14. Yang paling terkini...kehilangan pesawat Air Asia QZ8501
Cuba lihat. Adakah kita sedang menuju ke arah merapatkan diri dengan Allah s.w.t. atau sebaliknya (Na'uzubillah)? Adakah gambarannya kita sedang mendapat rahmat Allah atau sebaliknya?

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ ٱلنَّاسَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَـٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَہُمۡ يَظۡلِمُونَ (٤٤)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya manusia sedikitpun, akan tetapi 
manusia jualah yang menganiaya diri mereka sendiri (44) - Surah Yunus

Wallahu'alam

Tuesday, December 16, 2014

Borneo Trip

Asal hujung tahun aje, mesti nak jalan. Asal nak jalan aje, mesti kena hujung tahun. Sebabnya, tak tau. Mungkin sebab cuti sekolah lebih panjang, jadi kesesakan dapat diimbangkan jika berbanding dengan kesesakan yang dimampatkan akibat cuti sekolah pendek. Tapi untuk aku, cuti hujung tahun membolehkan aku untuk mengumpul sedikit dana dan merancang dengan lebih teliti supaya perjalanan percutian lebih teratur. Nama pun nak bercuti, jadi kita tak mahu keadaan yang kelam kabut dan 'adhoc'. Kalau masih muda dan bujang, tak mengapa.

Tahun ni, kami pilih Sabah, negeri di bawah bayu. Pembelian tiket penerbangan telah dibuat seawal bulan April. Tempahan homestay pula dibuat pada bulan Oktober. Kami telah memilih Malaysia Airlines untuk menikmati perkhidmatan yang selesa, dengan harga tiket yang agak berbaloi. Kami memilih 'homestay' kerana bilangan kami ramai di mana penginapan di bilik hotel tidak praktikal dan mahal.

Untuk aku, Sabah memang berbaloi untuk mereka yang pandai menghargai keindahan dan keunikan alam semulajadi. Untuk yang bermatlamat untuk membeli belah, mungkin tidak praktikal kerana harga barangan mahal sedikit dari Semenanjung. Melainkan anda berkehendakan dan meminati mutiara dan ikan masin.

Percutian kami sepanjang 4 hari 3 malam. Jadual penerbangan ditempah pada jam 8.30 pagi dari KLIA untuk memberi sedikit kelegaan dari terkocoh-kocoh dan kontinjensi.

Tapi, sesungguhnya Allah swt memberi ujian tidak mengira masa. Pengajaran untuk kami sekeluarga. Nak pergi ke Sabah, dan mungkin Sarawak juga, setiap ahli diwajibkan membawa dokumen pengenalan diri yang asal. Anak aku yang kedua belum ada mykad mahupun mykid. Kami hanya membawa salinan imbasan sijil kelahirannya. Setibanya di kaunter KLIA, salinan imbasan tidak diterima. Lantas, kecekapan aku memandu kenderaan selaju 180 km/j telah teruji apabila kami terpaksa pulang ke Cheras untuk mengambil dokumen asal. Alhamdulillah, kami selamat sampai semula di KLIA 30 minit sebelum berlepas.

Setelah dikira-kira, kos meletak kereta di Medan Letak Kereta A, KLIA jauh lebih murah untuk 4 hari, jika dibandingkan dengan kos menyewa teksi dan menggunakan tren ERL. Dengan hanya bayaran RM144 cukup berpatutan.

Aku jarang-jarang menggunakan penerbangan, jadi setiap detik dinikmati secukupnya. Begitu juga kelihatan di raut muka anak-anak dan keluarga yang nampak gembira. Jika mereka gembira, maka gembira lah aku. Alhamdulillah.

Lawatan terakhir dan terulung aku ke Sabah pada tahun 2007. Hanya berobjektif untuk memanjat Gunung Kinabalu dan pulang. Tapi sebaik menapakkan kaki di KKIA, suasana dan persekitaran di bandar Kota Kinabalu ternyata telah berubah. Kesesakan dan pembangunan sudah mirip KL. Pembinaan bangunan-bangunan baru di sekitar bandar memaparkan imej pembangunan sejagat. Cuma iklimnya masih kekal panas dan nyaman kerana kedudukan bandar KK dipinggir laut. Hampir serupa dengan Penang.

Ketika berada di KL lagi aku telah mengumpul sebanyak mungkin maklumat berkenaan Sabah dan tempat-tempat lawatan. Senarai maklumat memudahkan aku merancang jadual perjalanan dan masa. Antara yang disenarai pendekkan ialah:

  • Sunset di Tanjung Aru
  • Musical Fountain di Perdana Park
  • Tuanku Abdul Rahman Marine Park
  • Rumah Terbalik di Tamparuli
  • Jambatan Tamparuli
  • Kinabalu National Park
  • Desa Cattle Farm di Kundasang
  • Luanti Fish Spa di Tagal Moroli
  • Poring Hot Spring dan Canopy Walk

Senarai pendek sedemekian juga sudah kami rasakan kesuntukan masa 4 hari. Tapi Alhamdulillah kami dapat menikmat setiap lawatan secukupnya.

Sunset di Tanjung Aru sungguh mempersonakan

Aktiviti Para Sailing dengan kadar paling murah sukar untuk kata 'Tidak'

Himpunan kepulauan

Jeti Pulau Manukan menyambut ketibaan

Penginapan eksklusif untuk yang istimewa

Pengamatan Kampung Pasir Putih (kampung terapung), Pulau Gaya

Jambatan Tamparuli

Pekan Nabalu untuk onde-onde

Tipohon Gate, Kinabalu National Park untuk yang lasak

Desa Cattle Farm, Kundasang mirip New Zealand

Mt Kinabalu dari anjung D'izz Homestay selepas subuh ciptaan Ilahi

Canopy Walk di Poring Hot Spring National Park